Senin, 30 Maret 2009

Hujan Es di Ciledug

Minggu, 15 Maret 2009 14:35 WIB
TANGERANG, KOMPAS.com — Fenomena hujan es terjadi di sekitar Jabodetabek, saat hujan yang disertai angin kencang serta petir melanda Jakarta dan sekitarnya.
Hujan es turun di sekitaran jalan Ciledug Raya, Tangerang, Minggu (15/3) siang. Tiupan angin yang sangat kencang mengaburkan pandangan para pengguna jalan, sehingga banyak pengendara motor yang terpaksa menepi. Selain pandangan terbatas hantaman hujan es yang terasa sakit di badan juga membuat orang-orang memilih berhenti dan menepi. Jalanan pun sulit dilalui karena air mulai menggenangi ruas jalan.
Sepanjang jalan dari Ciledug Raya, Joglo Raya, Pos Pengumben dan Kebon Jeruk, terlihat banyak baliho kampanye yang runtuh dan jatuh di jalanan. Beberapa barang-barang milik toko atau kios di pinggir jalan pun tak luput dari terjangan angin. Rak-rak berisi ban, helm, maupun barang lain jatuh berserakan. Pot-pot tanaman hias juga roboh, sedangkan beberapa dahan pohon patah dan tergeletak di jalan.
Selain itu, hujan es juga dilaporkan terjadi di Ciputat.
Seperti dikutip wikipedia, hujan es, yang dalam ilmu meteorologi disebut hail, adalah presipitasi yang terdiri dari bola-bola es. Salah satu proses pembentukannya adalah melalui kondensasi uap air lewat dingin di atmosfer pada lapisan di atas freezing level. Es yang terjadi dengan proses ini biasanya berukuran besar. Karena ukurannya, walaupun telah turun ke arah yang lebih rendah dengan suhu yang relatif hangat, tidak semuanya mencair. Hujan es tidak hanya terjadi di negara subtropis, tetapi bisa juga terjadi di daerah ekuator.
Proses lain yang dapat menyebabkan hujan adalah riming, di mana uap air lewat dingin tertarik ke permukaan benih-benih es. Karena terjadi pengembunan yang mendadak maka terjadilah es dengan ukuran yang besar.
KOMPAS.com A. Wisnubrata

Hubble Ungkap Puluhan Peristiwa Tabrakan Galaksi

Minggu, 27 April 2008 21:11 WIB
JAKARTA, MINGGU - Tabrakan antargalaksi bukan lagi peristiwa langka di luar angkasa dan dapat terjadi dalam banyak cara. Teleskop ruang angkasa Hubble telah mengungkap puluhan kejadian yang menakjubkan tersebut dalam sejumlah foto yang direkam sejak beroperasi.
Peristiwa tersebut tentu lebih sering terjadi di awal perkembangan alam semesta. Saat itu ruang lebih sempit, jarak antara galaksi yang satu dengan lainnya lebih dekat sehingga peluang tabrakan lebih besar. Tabarkan galaksi dipicu gaya gravitasi atau tarik-menarik dari dua galaksi yang saling berdekatan. Biasanya, proses tabrakan diawali dengan pembentukan jembatan material, berupa rantai gas dan debu yang menghubungkan kedua galaksi. Meski pertemuan ini berjalan hingga ratusan kilometer per jam, proses tabrakan bisa berlangsung ratusan juta tahun.
Gas dan debu akan berangsur-angsur terkumpul di inti galaksi. Saat kedua intinya sangat dekat,gas dan debu akan tertarik dengan sangat cepat dan menghasilkan getaran kuat yang tersebar ke segala arah. Kumpulan gas dan debu yang sangat pekat merupakan tempat kelahiran bintang-bintang baru yang berwarna biru saat masih muda.
Proses interaksi yang dapat memicu tabrakan tidak berhenti saat ini. Galaksi Bima Sakti yang merupakan tempat tata surya kita berada, misalnya, diperkirakan akan bertabrakan dengan galaksi terdekat, andromeda, sekitar 2 miliar tahun lagi dan membentuk Milkomeda. Bima Sakti juga tengah menyedot galaksi lebih kecil yang disebut galaksi galaksi elips kerdil Sagitarius. Teleskop Hubble berhasil merekam tabrakan galaksi dalam berbagai tahap. Bentuknya juga sangat bervariasi, jika dilihat sekilas ada yang seperti sebuah sikat gigi, atau seekor burung hantu yang tengah terbang. Semuanya ada 59 foto tabrakan galaksi yang dirilis sejak Kamis (24/4) sebagai peringatan 18 tahun peluncuran Hubble.
WAH Sumber : SPACE.COM




Terowongan "Kiamat" di Tanah Swiss

Senin, 23 Februari 2009 06:37 WIB
SWISS, MINGGU — Laboratorium berupa terowongan sepanjang 27 kilometer, 91 meter di bawah tanah Swiss, disebut sebagai penemuan terbesar abad ini. Large Hadron Collider (LHC) akan merekayasa ulang penciptaan bumi, tapi terowongan ini bisa meledak, bahkan menghancurkan bumi.
LHC yang berada di bawah pegunungan Alpen, perbatasan Swiss dan Perancis, merupakan percobaan fisika terbesar di dunia. Biaya konstruksi untuk pembangunan fasilitas ini mencapai 8,8 miliar dollar ASn yang didanai oleh European Organization for Nuclear Research (CERN) bekerja sama dengan ribuan universitas dan laboratorium di seluruh dunia.
CERN akan mereka ulang terbentuknya Tata Surya beberapa detik setelah Big Bang (ledakan dahsyat). Selama ini Big Bang diyakini sebagai teori terbentuknya jagad raya secara instan. Teori ini menyatakan bahwa alam semesta berasal dari kondisi superpadat dan panas, yang kemudian mengembang sekitar 13.700 juta tahun lalu.
Para ilmuwan juga percaya bawa Big Bang membentuk sistem Tata Surya. Ide sentral dari teori ini adalah bahwa teori relativitas umum dapat dikombinasikan dengan hasil pemantauan dalam skala besar pada pergerakan galaksi terhadap satu sama lain, dan meramalkan bahwa suatu saat alam semesta akan kembali atau terus. Konsekuensi alami dari Teori Big Bang yaitu pada masa lampau alam semesta punya suhu yang jauh lebih tinggi dan kerapatan yang jauh lebih tinggi.
Kini LHC akan menguji coba bermacam prediksi fisika berenergi tinggi dengan melemparkan tembakan proton berkecepatan tinggi. Tapi, kritikus menilai, LHC yang mampu mempercepat partikel hingga 99,99 persen kecepatan cahaya dapat memunculkan panas triliunan derajat. Selain itu, juga bisa menimbulkan apa yang disebut lubang hitam yang bisa menelan bumi.
Ketakutan ini berujung pada gugatan ke European Convention of Human Rights terhadap 20 negara, termasuk AS, yang mendanai proyek itu. Apakah kita perlu khawatir? “Sama sekali tidak,” kata Stephane Coutu, profesor fisika dari Universitas Pennsylvania, AS.
“Bumi berulang kali dibombardir energi kosmik dari angkasa, beberapa di antaranya menyerap ribuan tabrakan partikel lebih hebat dari yang dihasilkan oleh LHC,” tambahnya. Ketakutan pada munculnya lubang hitam itu menyebabkan LHC disebut sebagai Mesin Kiamat atau Mesin Bing Bang seperti teori mengenai penciptaan jagad raya.
Apa itu LHC itu dan bagaimana penembakan partikel bisa menjelaskan terbentuknya jagad raya? Pemacu partikel paling besar yang pernah dibuat manusia itu terdiri dari terowongan bawah tanah sepanjang 27 kilometer. Coutu menjelaskan, proton akan dibenturkan melalui terowongan hingga bertabrakan dan terpecah menjadi bagian lebih kecil. Detektor partikel di sepanjang terowongan akan menganalisa hasil tabrakan itu.
“Hasil akhir dari tabrakan partikel itu dapat menyediakan pemahaman baru bagaimana partikel berinteraksi dan bisa menjelaskan hasil dari proses partikel setelah terjadinya Big Bang saat pembentukan jagad raya,” jelasnya.
Kemungkinan lain adalah bisa mengamati Higgs Boson sebagai hasil dari tabrakan partikel itu. Higgs Boson merupakan partikel misterius yang secara hipotesis diprediksikan ada dalam standar model fisika partikel, tapi tidak pernah diisolasi secara eksperimen.
Higgs boson yang diperkirakan menyediakan massa ke partkel lain dan kadang-kadang disebut sebagai partikel Tuhan, bisa sebagai kunci untuk mengetahui mengapa hal itu bisa terjadi. Verifikasi mengenai keberadaannya akan menjadi terobosan di fisika partikel.
“Hal lain dari data eksperimen LHC akan memberi petunjuk peningkatan kehidupan sehari-hari kita. Metode komputasi untuk memproses dan menganalisa data yang sangat besar ini akan segera dibuat. Hal itu akan dilakukan di luar laboratorium,” kata Coutu lagi.
Tapi ilmuwan masih harus sabar memanen data itu. Karena mesin ini baru akan dijalankan lagi pada akhir 2009 nanti. LHC sudah dinyalakan pada September 2008, tapi dimatikan enam hari kemudian karena mengalami masalah teknis.Penundaan itu diakibatkan kerusakan pada magnet superkonduktor yang menyebabkan bocornya 6 ton helium cair super dingin ke dalam terowongan itu. LHC sendiri diyakini bisa memecahkan berbagai pertanyaan manusia selama berabad-abad mengenai terciptanya jagad raya kita. (inc/ggl)
(http://www.kompas.com/)

Badai Matahari Ancam Jaringan Telekomunikasi

Rabu, 9 Januari 2008 11:08 WIB
JAKARTA, RABU - Matahari mulai menunjukkan peningkatan aktivitas dan dapat memicu badai yang bisa menyebabkan gangguan terhadap alat-alat elektronika, radar, satelit, dan jaringan telekomunikasi. Sebuah bintik hitam baru yang dapat tumbuh menjadi pusat terbentuknya badai energi berkekuatan besar terdeteksi di permukaan Matahari.
NOAA mendeteksi bintik hitam tersebut di belahan utara Matahari. Bintik hitam terbaru yang terdeteksi NOAA sejak melakukan pengamatan intensif 5 Januari 1972 itu diidentifikasi sebagai #10.981.
Bintik hitam merupakan daerah di permukaan Matahari yang mempunyai suhu lebih rendah daripada daerah sekitarnya. Hal tersebut menyebabkan wilayah bertekanan tinggi yang memicu gejolak energi berkekuatan besar dan jika terus meningkat akan melepaskan energinya dalam bentuk badai gelombang elektromagnetik.
"Dalam hal ini, ini adalah awal badai Matahari yang akan meningkat secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan," ujar Douglas Biesecker, pakar dari Space Weather Prediction Center (SWPC), National Oceanic and Atmospheric Association (NOAA). Munculnya bintik hitam merupakan pertanda dimulainya siklus peningkatan aktivitas Matahari.
Peningkatan aktivitas Matahari mengalami siklus 11 tahunan yang diperkirakan akan kembali memasuki periode puncaknya tahun ini. Sejak April 2007, NOAA sudah merilis prediksi bahwa dimulainya puncak aktivitas Matahari yang diberi nama Solar Cycle 24 sekitar Maret 2008, maju atau mundur enam bulan.
Saat terjadi badai Matahari, partikel-partikel bermuatan listrik akan dipancarkan Matahari ke segala arah dan bisa mencapai Bumi sebagai badai gelombang elektromagnetik. Peristiwa tersebut dapat merusak rangkaian listrik, di satelit, jaringan telekomunikasi, jaringan listrik, dan membahayakan astronot di antariksa.
Bisa dibayangkan bagaimana jika sistem telekomunikasi, listrik, dan navigasi global positioning system (GPS) lumpuh karena sarana utama pendukungnya mati. Mesin ATM tidak berfungsi, jaringan seluler mati, dan penerbangan berhenti. Badai Matahari bisa menghambat aktivitas manusia di hampir seluruh penjuru dunia.(NOAA)

Sekte Hari Kiamat Mengurung Diri di Gua

Kamis, 3 April 2008 10:17 WIB
MOSKOW, KAMIS - Setelah berbulan-bulan berlindung di dalam gua, satu per satu anggota sekte hari kiamat muncul ke permukaan tanah. Hari kiamat yang mereka coba hindari ternyata tidak datang juga, malah pemimpin mereka masuk rumah sakit.
Wakil Gubernur Penza, Oleg Melichenko mengatakan lewat televisi, tiga orang muncul dari dalam gua, satu orang dewasa dan dua anak-anak. Menurut laporan kantor berita ITAR-Tass ketiganya adalah seorang ibu, anak perempuannya yang remaja dan bayi perempuan berusia 20 bulan. Ketiganya dilaporkan dalam keadaan sehat.
"Saat ini tim perunding terus berupaya membujuk 11 orang yang belum juga mau keluar," kata Melnichenko, Rabu (2/4) atau Kamis (3/4) waktu Indonesia.
Sehari sebelumnya, Selasa (1/4), sebanyak 14 orang keluar setelah salju di sekitar gua itu meleleh dan menyebabkan sebagian dinding gua itu ambrol.
Sebanyak 35 orang masuk ke gua itu awal November lalu untuk menunggu kiamat yang menurut mereka akan terjadi Mei mendatang. Mereka mengancam akan meledakkan tabung gas bila polisi memaksa mereka keluar.
Pyotr Kuznetsov, pemimpin kelompok yang menyebut diri sebagai nabi, telah didakwa membentuk organisasi keagamaan yang menganjurkan aksi kekerasan. Bahkan polisi sudah menyita sejumlah tulisan yang di antaranya mengandung pidato ekstremis.
Melnichenko mengatakan, Kuznetsov sekarang dikirim ke rumah sakit karena melukai kepalanya. Kuznetsov, kata Melnichenko, meletakkan kepalanya di tunggul pohon lalu menghantamkan sepotong kayu beberapa kali sampai luka. "Itu percobaan bunuh diri," katanya kepada televisi NTV.
Sebelumnya, kantor berita Interfax mengutip Melnichenko yang mengatakan luka itu akibat pukulan anggota sekte saat mereka terlibat pertengkaran. Tidak ada penjelasan soal perbedaan itu.
Kuznetsov ditahan di rumah sakit jiwa sejak November lalu. Namun kemudian dibawa ke gua itu untuk bernegosiasi dengan anggota sekte agar mau keluar dari situ.
Sebelumnya dilaporkan, Kuznetsov mengatakan kepada anggotanya bahwa dalam kehidupan setelah mati mereka lah yang akan menentukan seseorang layak masuk surga atau neraka. Para pengikutnya dilarang menonton televisi, mendengar radio atau memegang uang.(AP)
SAS

Astronom: Kiamat 7,6 Miliar Tahun Lagi

Senin, 25 Februari 2008 13:31 WIB
PARIS, MINGGU - Berita penting, konon Bumi akan terpanggang dan kemudian ditelan oleh Matahari yang sekarat. Namun, anda jangan cepat panik, karena menurut para astronom kematian planet Bumi masih lama, yakni 7,6 miliar tahun lagi.
Kalkulasi tak biasa ini muncul pada edisi online jurnal Inggris, Astrophysics pada http://uk.arxiv.org/. Robert Smith, korektor naskah emiritus astronomi di University of Sussex, Inggris selatan, sebelumnya memperhitungkan bahwa ketika Matahari kehabisan bahan bakarnya, Matahari akan berkembang menjadi bintang raksasa merah yang berbahaya.
Namun demikian, sekalipun menjadi garing seperti kerupuk, Bumi akan selamat dari kehancuran total, kata Smith, seperti dilaporkan AFP, Minggu (24/2). Menurut Smith, yang bekerja dengan Dr. Klaus-Peter Schroeder di Universitas Guanajuato, Meksiko, merenggangnya atmosfir bagian luar Matahari menyebabkan Bumi mengorbit di lapisan luar atmosfir yang kepadatannya sangat rendah.
"Tarikan itu disebabkan oleh gas dengan kepadatan rendah ini cukup untuk mengakibatkan Bumi mengapung di dalamnya dan akhirnya ditangkap dan dipanggang menjadi uap oleh Matahari. Sebelum persitiwa ini, kehidupan di Bumi akan menjadi sedikit kurang menyenangkan. Beberapa miliar tahun dari sekarang, saat Matahari secara perlahan mengembang, lautan akan menguap, dengan memenuhi atmosfir dengan uap air dan memicu pemanasan besar-besaran.
Dua opsi
Smith menguraikan secara terinci dua opsi, keduanya seperti fiksi ilmiah, untuk menghindari nasib malang seperti ini. Yang pertama memanfaatkan dorongan gravitasi dari asteroid yang melintas untuk secara lembut menarik Bumi keluar dari zona bahaya.
Dorongan kecil setiap 6.000 tahun ini cukup bagi kehidupan untuk bertahan paling tidak lima miliar tahun lagi, asalkan salah perhitungan tidak menyebabkan asteroid tersebut malah menghantam Bumi dan bukannya melintas dalam jarak dekat.
"Solusi yang aman tampaknya adalah membangun armada rakit kehidupan antar-planet yang dapat melakukan manuver dengan sendirinya keluar dari jangkauan Matahari, namun cukup dekat untuk menggunakan energinya," katanya.(ANT/WAH)
(http://www.kompas.com/)

"Kubah Kiamat" di Kutub Utara Mulai Difungsikan

Selasa, 26 Februari 2008 21:17 WIB
LONGYEARBYEN, SELASA - Sebuah bangunan sangat kuat yang dibangun di Kutub Utara untuk menyimpan biji-bijian dari seluruh dunia resmi difungsikan. Fasilitas yang disebut sebagai Kubah Kiamat (Doomsday Vault) ini dibuat di dalam sebuah gunung beku di Kepulauan Svalbard, Norwegia, 1100 kilometer dari kutub utara.
Disebut kubah kiamat karena pembangunannya dimaksudkan untuk melindungi plasma nutfah. Jika terjadi bencana alam yang sangat besar hingga memusanhkan sumber pangan, biji-bijina tersebut diharapkan menjadi penyelamat manusia dari kelaparan.
"Svalbard Global Seed Vault merupakan kebijakan penyelamatan kami. Ini adalah 'Bahtera Nuh' untuk melindungi keragaman biologi generasi masa depan," ujar Perdana Menteri Norwegia Jens Stoltenberg, dalam upacara pembukaan, Selasa (26/2). Pembukaan fasilitas ini juga dihadiri Presiden Komisi Eropa, Jose Manual Barroso, dan penerima Nobel Perdamaian 2004, Wangari Maathai, dari Kenya.
Kubah yang berada di dalam perut gunung sedalam 127,5 meter tersebut akan menyimpan cadangan bibit dari ratusan bank benih dari seluruh dunia. Ruangan di dalamnya dapat memuat 4,5 juta sampel benih. Kubah Kiamat dibangun atas prakarsa Global Crop Diversity Trust, lembaga yang didanai badan PBB untuk urusan pangan atau FAO (Food and Agriculture Organization), dan Biodiversity Internasional yang berbasis di Roma, Italia. Bangunan tersebut dibuat selama satu tahun dengan biaya pembangunan mencapai 9,1 juta dollar AS.(AP/WAH)
(http://www.kompas.com/)

Sebuah Planet Asing Dekati Kiamat

Selasa, 2 Desember 2008 05:40 WIB
JAKARTA, SELASA - Sebuah planet asing yang baru ditemukan sangat istimewa karena mengorbit bintang yang tengah sekarat. Planet semacam ini dicari-cari karena dapat membantu para astronom mempelajari proses hancurnya planet. Hal tersebut akan membuka pengetahuan baru mengenai proses terjadinya kiamat di tata surya.
Planet asing tersebut jenis palnet gas dan berukuran enam kali Planet Jupiter. Ia mengorbit bintang raksasa merah bernama HD 102272 yang berada di rasi bintang Leo, 1200 tahun cahaya dari Bumi (1 tahun cahaya setara dengan 9,5 triliun kilometer). Di bintang ini sebelumnya pernah ditemukan planet lain namun dengan jarak orbit lebih jauh.
Bintang-bintang berukuran kecil dan sedang seperti Matahari diyakini akan berangsur-angsur berubah menjadi bintang raksasa merah seiring berkurangnya emisi energi nuklir yang dilepaskannya. Begitu hidrogennya habis dilepaskan, inti bintang akan mengembang lalu mulai membakar helium. Bagian permukannya akan menggembung hingga 100 kali ukuran aslinya. Saat Matahari berubah sebesar itu, Bumi dan sejumlah planet mungkin telah hancur.
"Saat bintang-bintang raksasa merah mengembang, mereka akan melahap planet-planet terdekat," ujar Alexander Wolszczan, seorang pakar astrofisika dari Pennsylvania State University yang merekam planet baru itu dengan Hobby-Eberly Telescope di Observatorium McDonals, Texas, AS. Ia dan timnya menggunakan teknik pemantauan gejolak cahaya saat planet melakukan transit atau melintas di depan bintangnya.
Planet yang baru ditemukan hanya berjarak 0,6 AU (1 astronomical unit setara dengan jarak Matahari-Bumi). Ini merupakan jarak terdekat sebuah planet dengan bintang raksasa merah yang pernah terekam sejauh ini. Bintangnya sendiri baru 10 kali lipat ukuran Matahari dan akan terus mengembang hingga 100 kali lipat.
"Planet itu sendiri mengorbit bukan di ruang hampa melainkan gas yang dihembuskan akibat gejolak bintang. Jadi, energi untuk mengorbit terganggu gesekan atmosfernya dengan gas dan akhirnya mulai limbung bergerak spiral," jelas Wolszczan. Bagaimana akhir cerita planet tersebut, Wolszczan mengatakan mungkin belum akan terjadi dalam 100 juta tahun ke depan. Matahari sendiri membutuhkan waktu 5 miliar tahun untuk berubah menjadi bintang raksasa merah.
WAH Sumber : SPACE.COM

Pecahan Asteroid yang Jatuh di Sudan Berhasil Dikumpulkan

Jumat, 27 Maret 2009 17:24 WIB
KHARTOUM, KOMPAS.com — Untuk pertama kalinya, para ilmuwan berhasil mengumpulkan pecahan asteroid yang sudah teramati dengan saksama sejak mengarah hingga jatuh ke Bumi. Asteroid yang diberi nama 2008 TC3 tersebut jatuh ke kawasan Gurun Nubian, Sudan, Oktober tahun lalu.
Penemuan pecahan asteroid bukan pertama kali terjadi. Namun, yang unik dari penemuan ini karena asteroid tersebut sudah terlacak dengan baik saat mengarah hingga jatuh. Proses penemuan seperti ini belum pernah dilaporkan sebelumnya.
Asteroid sebesar mobil itu terlacak pertama kali oleh astronom Arizona, AS hanya beberapa hari sebelum jatuh ke Bumi. Jalur perjalanannya langsung dimonitor sejumlah teleskop dari seluruh dunia sehingga dapat diperkirakan lokasi jatuhnya.
Peter Jenniskens dari SETI Institut, California, yang menjadi penulis laporan pertama keberadaan asteroid tersebut kemudian melakukan perjalanan ke Sudan untuk melacaknya. Penelusuran yang menyeluruh akhirnya berhasil menemukan 47 pecahan untuk dianalisis.
"Asteroid ini terbuat dari material yang mudah pecah sehingga ia pecah pada ketinggian 37 kilometer sebelum berangsur-angsur jatuh perlahan," ujar Jenniskens. Menurutnya, jenis asteroid ini sangat langka dan jarang ditemukan.
Material penyusunnya disebut ureilite. Hasil perbandingan data menunjukkan asteroid 2008 TC3 tersebut termasuk muda dan baru mengarungi beberapa juta tahun di sekitar pusat tata surya.
Analisis terhadap pecahan-pecahan astroid tersebut akan memberikan banyak informasi untuk mengungkap proses pembentukan di ruang angkasa. Selain itu, para ilmuwan juga berharap dapat mempelajari lebih lanjut hubungannya dengan rute perjalanan asteroid agar dapat menyiapkan cara mengatasi asteroid lebih besar yang mungkin mengancam Bumi.
WAH Sumber : BBC

Minggu, 29 Maret 2009

Isu Kiamat Tahun 2012 yang Meresahkan

Rabu, 26 November 2008 13:07 WIB
Oleh Yuni Ikawati
Di internet saat ini tengah dibanjiri tulisan yang membahas prediksi suku Maya yang pernah hidup di selatan Meksiko atau Guatemala tentang kiamat yang bakal terjadi pada 21 Desember 2012.
Pada manuskrip peninggalan suku yang dikenal menguasai ilmu falak dan sistem penanggalan ini, disebutkan pada tanggal di atas akan muncul gelombang galaksi yang besar sehingga mengakibatkan terhentinya semua kegiatan di muka Bumi ini.
Di luar ramalan suku Maya yang belum diketahui dasar perhitungannya, menurut Deputi Bidang Sains Pengkajian dan Informasi Kedirgantaraan, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Bambang S Tedjasukmana, fenomena yang dapat diprakirakan kemunculannya pada sekitar tahun 2011-2012 adalah badai Matahari. Prediksi ini berdasarkan pemantauan pusat pemantau cuaca antariksa di beberapa negara sejak tahun 1960-an dan di Indonesia oleh Lapan sejak tahun 1975.
Dijelaskan, Sri Kaloka, Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Antariksa Lapan, badai Matahari terjadi ketika muncul flare dan Coronal Mass Ejection (CME). Flare adalah ledakan besar di atmosfer Matahari yang dayanya setara dengan 66 juta kali ledakan bom atom Hiroshima. Adapun CME merupakan ledakan sangat besar yang menyebabkan lontaran partikel berkecepatan 400 kilometer per detik.
Gangguan cuaca Matahari ini dapat memengaruhi kondisi muatan antariksa hingga memengaruhi magnet Bumi, selanjutnya berdampak pada sistem kelistrikan, transportasi yang mengandalkan satelit navigasi global positioning system (GPS) dan sistem komunikasi yang menggunakan satelit komunikasi dan gelombang frekuensi tinggi (HF), serta dapat membahayakan kehidupan atau kesehatan manusia. ”Karena gangguan magnet Bumi, pengguna alat pacu jantung dapat mengalami gangguan yang berarti,” ujar Sri.
Langkah antisipatif
Dari Matahari, miliaran partikel elektron sampai ke lapisan ionosfer Bumi dalam waktu empat hari, jelas Jiyo Harjosuwito, Kepala Kelompok Peneliti Ionosfer dan Propagasi Gelombang Radio. Dampak dari serbuan partikel elektron itu di kutub magnet Bumi berlangsung selama beberapa hari. Selama waktu itu dapat dilakukan langkah antisipatif untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan.
Mengantisipasi munculnya badai antariksa itu, lanjut Bambang, Lapan tengah membangun pusat sistem pemantau cuaca antariksa terpadu di Pusat Pemanfaatan Sains Antariksa Lapan Bandung. Obyek yang dipantau antara lain lapisan ionosfer dan geomagnetik, serta gelombang radio. Sistem ini akan beroperasi penuh pada Januari 2009 mendatang.
Langkah antisipatif yang telah dilakukan Lapan adalah menghubungi pihak-pihak yang mungkin akan terkena dampak dari munculnya badai antariksa, yaitu Dephankam, TNI, Dephub, PLN, dan Depkominfo, serta pemerintah daerah. Saat ini pelatihan bagi aparat pemda yang mengoperasikan radio HF telah dilakukan sejak lama, kini telah ada sekitar 500 orang yang terlatih menghadapi gangguan sinyal radio.
Bambang mengimbau PLN agar melakukan langkah antisipatif dengan melakukan pemadaman sistem kelistrikan agar tidak terjadi dampak yang lebih buruk. Untuk itu, sosialisasi harus dilakukan pada masyarakat bila langkah itu akan diambil.
Selain itu, penerbangan dan pelayaran yang mengandalkan satelit GPS sebagai sistem navigasi hendaknya menggunakan sistem manual ketika badai antariksa terjadi, dalam memandu tinggal landas atau pendaratan pesawat terbang.
Perubahan densitas elektron akibat cuaca antariksa, jelas peneliti dari PPSA Lapan, Effendi, dapat mengubah kecepatan gelombang radio ketika melewati ionosfer sehingga menimbulkan delai propagasi pada sinyal GPS.
Perubahan ini mengakibatkan penyimpangan pada penentuan jarak dan posisi. Selain itu, komponen mikroelektronika pada satelit navigasi dan komunikasi akan mengalami kerusakan sehingga mengalami percepatan masa pakai, sehingga bisa tak berfungsi lagi.
Saat ini Lapan telah mengembangkan pemodelan perencanaan penggunaan frekuensi untuk menghadapi gangguan tersebut untuk komunikasi radio HF. ”Saat ini tengah dipersiapkan pemodelan yang sama untuk bidang navigasi,” tutur Bambang.
Yuni Ikawati
Sumber : Kompas Cetak

Banjir Palembang



Kamis, 20 November 2008 07:53 WIB
BANJIR - Sejumlah kendaraan menerobos genangan air di Jalan Kapten A Rivai Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (19/11) sore. Ruas jalan tersebut tergenang setelah turun hujan deras selama sekitar dua jam. Kondisi ini disebabkan drainase di kawasan itu kurang berfungsi secara maksimal.




(http://www.kompas.com/)

Banjir Masih Menggenangi Jakarta

Kamis, 15 Januari 2009 22:01 WIB
JAKARTA, KAMIS —Hingga Kamis (15/1), sejumlah wilayah di DKI Jakarta masih terendam banjir. Sejumlah kali yang meluap antara lain Kali Ciliwung, Kali Angke, dan Kali Sunter.
Kali Ciliwung yang berhulu di Puncak masih menyengsarakan penduduk di sekitar bantarannya, terutama di Bidaracina, Kampung Pulo, Cawang, Bukitduri, dan Kalibata.
Kali Sunter yang mengalir melintasi Jakarta Timur dan Jakarta Utara merendam sejumlah wilayah antara lain Kampung Makassar, Pondok Bambu, dan Kelapa Gading.
Galian Banjir Kanal Timur yang sudah terbentuk di Cipinang ternyata belum mampu menyelamatkan permukiman elite Cipinang Indah. Jalan Perintis Kemerdekaan pun belum selamat dari genangan akibat luapan Kali Sunter.

Lapindo

Sabtu, 28 Maret 2009

Seminar Akhir Zaman 2009

Hadiri dan Doakan

Seminar Akhir Zaman 2009
“Langit & Cakrawala Menceritakan Kemulian Allah” (Mazmur 19:1)

Sabtu, 9 Mei 2009
Pukul 10.00-16.00 WIB
(09.00-10.00 WIB Registrasi + Coffe Break)

Tempat :
Convention Hall Gramedia Expo
Jl. Basuki Rahmat 93-105 Surabaya

Pembicara:
Dr. Iratius Radiman
“Adalah alumni dan dosen ITB. Meraih gelar Master dan Doktor dalam bidang Astronomi dari Universite De Paris VII, Francaise. Seorang pembicara nasional dalam bidang astronomi. Beliau juga adalah seorang peneliti dalam bidang Solar System Physics, Planetary Mars Atmosphere, Extra Solar Planets, dan Solar Terrestrial Relationships. Juga menjadi anggota Assoc. Proffesor In Astronomi sejak tahun 1973 sampai sekarang”

Ev. Harry Limanto, M.Div.
“Adalah staff senior Perkantas Jatim, Alumni I3 Batu, Malang. Melayani di Perkantas sejak tahun 1989. Menghasilkan SDM-SDM Kristen untuk bangsa ini menjadi beban beliau. Karena itu, pelayanan mahasiswa adalah pelayanan yang beliau sangat cintai. Beliau juga adalah seorang pengkhotbah eksposisi dan KKR di beberapa kota di Indonesia, dan pernah mengadakan KKR di Malaysia dan Korea”

Kontribusi Peserta :
Siswa-Mahasiswa Rp 20.000,-
Umum Rp 30.000,-

Contact Person :
Fenti : (031) 70003536 / 0816503842
Ivana : 0852 3904 1724
Vonny (GPPS) : 0888 3132 222

Sekretariat Perkantas (031) 8435582
(Pada Jam Kerja Senin-Jumat Pkl. 08.00-16.00 WIB)

Bekerjasama dengan:










Gereja Pantekosta Pusat Surabaya(GPPS)Jemaat Sawahan


Turut didukung oleh:











Pusat KerohanianUniversitas Kristen Petra Surabaya

Tiket Box:

  1. Sekretariat Perkantas. Jl. Tenggilis Mejoyo KA-10 Surabaya. Telp: 031-8345582, 8413047
  2. GPPS Jemaat Sawahan. Jl.Bromo I/7-9 Surabaya. Up. Vonny 0888 3132 222
  3. Pusat Kerohanian Universitas Kristen Petra. Jl. Siwalankerto 121 - 131 Surabaya. Telp: 031-2983197
  4. Toko Buku Immanuel. Jl. Pregolan Bunder 27 Surabaya
  5. Toko Buku Visi Supermal Pakuwon Surabaya
  6. Toko Buku Yakin. Jl. Genteng Besar 85 Surabaya

Iklan Seminar Akhir Zaman 2009

video

Brosur Seminar Akhir Zaman 2009


Poster Seminar Akhir Zaman 2009